Setiap orang pasti punya mimpi.
Klasik sihh..
Sebenernya orang yang punya mimpi tahu apa yang sedang di kejar. Tau apa yang sedang diperjuangkan dan tau gimana cara ngedapetinnya. Kalau cuma sekedar bergantung pada hasil dan lupa makna dari tujuan bermimpi mungkin ada yang salah dengan mimpi nya. Dan sesekali mimpi bisa direvisi.
Sebulan kebelakang saya habis melakukan serangkaian perjalanan penuh makna. Awalnya perjalanan kemaren cuma untuk sebuah pelarian yang dimana saya sedang jenuh dengan rutinitas tanpa batas yang menjemukan. Tapi percayalah ketika kita berhenti pada satu titik selalu ada titik lain yang berusaha menuntun kita untuk menembus satu jalan. Dalam kenyataannya perjalanan selalu menghantarkan saya kepada pelajaran yang tidak pernah saya prediksi.
Saya dipertemukan oleh beberapa orang yang tidak pernah saya prediksi untuk bertemu, berbagi dan tanpa disadari saling bergantung satu sama lain. Konsepnya begini, kami dipertemukan di satu ruang yang pada awalnya semua memiliki ekspektasi tinggi tentang perjalanan itu tapi ternyata ekspektasi terkadang harus kalah dengan kenyataan. Mereka semua adalah sekumpulan orang - orang pintar dan memiliki kredibilitas tinggi di bidangnya masing - masing.
tapi,
pernah dengar istilah "semakin tinggi pohon, semakin kita tidak pernah tau apa saja yang sudah terjadi dengan pohon tersebut". ? yaaa itu berlaku di mereka, di saya dan di kami semua. Tidak pernah ada yang tahu orang disamping kita yang sedang tertawa bahagia belum tentu memang ia bahagia, kita tidak pernah tau apa yang sedang disimpan orang tersebut di kepalanya. Atau orang yang sedang bercerita sedih siapa yang tau kalau ternyata hatinya sedang bahagia. Ya ketika lingkungan kita melabeling "dewasa" kepada kita semakin lingkungan melonggarkan perhatian dan pengertian mereka terhadap kita.Secara konsep itu ga salah, karena sebenernya kita terus berkembang tapi terkadang mereka acuh berlebihan, karena ada saat - saat tertentu pada fase "dewasa" dimana kita sungguh membutuhkan dukungan dan perhatian selayaknya dahulu saat kita belum berstatus "dewasa".Percayalah konsep dewasa untuk di umur 20 sungguh rumit.
Balik ke mereka yang sedang saya bicarakan, hampir setiap hari kami melakukan kegiatan bersama. Makan, travelling, nyobain ini-itu tanpa jeda, dan aktivitas kecil yang mungkin terlihat kecil tapi penuh makna. Pernah di suatu malam mendekati akhir perjalanan kami, kita berkumpul di satu meja bercerita saling bertukar tentang mimpi dan kenangan yang secara tidak kami sadari tersimpan di bawah alam sadar kami. Setiap orang punya satu mimpi, saya ingat betul semua bercerita tentang mimpi nya masing - masing, ada yang ingin menjadi dosen, wanita karir, wirausaha, atau yang ingin konsen di bidang sosial bahkan travelling. Mereka semua punya mimpi yang mereka bentuk dan mereka susun untuk mendukung labeling "dewasa" sebagai nama belakang kami. Mimpi yang mereka bentuk tidak terjadi begitu saja, tidak pernah ada yang tahu apa yang pernah terjadi dihidup mereka sebelumnya, yang membuat mereka begitu kuat dan visioner seperti saat itu.
Analoginya gini, Taj Mahal di India dibangun begitu indahnya seperti saat ini, siapa sangka kalau si raja sebagai orang yang memiliki ide untuk membangun terinspirasi dari rasa cinta yang mendalam kepada istri nya dan di visualisasikan dalam bentuk bangunan yang indah. Mungkin kita tidak pernah melihat Taj Mahal kalau sang raja ga merasakan patah hati yang mendalam, dan disalurkan melalui visualisasi dalam bentuk bangunan yang diberi nama Taj Mahal. Seperti itu lah orang - orang yang menjadi teman saya selama sebulan kebelakang, mungkin saya tidak pernah tau apa yang membentuk mereka.
Tapi saya meyakini..
bahwa mimpi yang terbentuk dilatarbelakangi oleh apa yang sudah terjadi dibelakang yang biasa kita sebut sebagai kenangan. apa yang sudah terjadi di mereka satu per satu tidak pernah ada yang tau, tapi itu semua membuat mereka kuat untuk membentuk mimpi mereka menjadi pijakan yang tepat untuk melangkah.
Saya menamai mereka sebagai teman berbagi mimpi. Teman yang saya sangat tunggu realisasi dari mimpi mimpi mereka. Dan secara tidak langsung saya sedang bermimpi, bermimpi untuk bertemu di ruang yang berbeda dengan mereka namun dengan makna yang hampir sama dengan saat - saat dimana kami pernah melewatinya
Semua orang punya mimpi hanya saja
beberapa orang lupa rasanya bermimpi. Lupa rasanya punya peluang. Lupa gimana memiliki harapan.
p.s : Terima Kasih untuk mengikuti alur mimpi saya hingga akhir.
Philosophers say that that's enough
There surely must be more
Love ain't the answer, nor is work
.......
But I'm still having fun and I guess that's the key
I'm a twentysomething and I'll keep being me
-Twenty Something - Jamie Cullum-
Klasik sihh..
Sebenernya orang yang punya mimpi tahu apa yang sedang di kejar. Tau apa yang sedang diperjuangkan dan tau gimana cara ngedapetinnya. Kalau cuma sekedar bergantung pada hasil dan lupa makna dari tujuan bermimpi mungkin ada yang salah dengan mimpi nya. Dan sesekali mimpi bisa direvisi.
Sebulan kebelakang saya habis melakukan serangkaian perjalanan penuh makna. Awalnya perjalanan kemaren cuma untuk sebuah pelarian yang dimana saya sedang jenuh dengan rutinitas tanpa batas yang menjemukan. Tapi percayalah ketika kita berhenti pada satu titik selalu ada titik lain yang berusaha menuntun kita untuk menembus satu jalan. Dalam kenyataannya perjalanan selalu menghantarkan saya kepada pelajaran yang tidak pernah saya prediksi.
Saya dipertemukan oleh beberapa orang yang tidak pernah saya prediksi untuk bertemu, berbagi dan tanpa disadari saling bergantung satu sama lain. Konsepnya begini, kami dipertemukan di satu ruang yang pada awalnya semua memiliki ekspektasi tinggi tentang perjalanan itu tapi ternyata ekspektasi terkadang harus kalah dengan kenyataan. Mereka semua adalah sekumpulan orang - orang pintar dan memiliki kredibilitas tinggi di bidangnya masing - masing.
tapi,
pernah dengar istilah "semakin tinggi pohon, semakin kita tidak pernah tau apa saja yang sudah terjadi dengan pohon tersebut". ? yaaa itu berlaku di mereka, di saya dan di kami semua. Tidak pernah ada yang tahu orang disamping kita yang sedang tertawa bahagia belum tentu memang ia bahagia, kita tidak pernah tau apa yang sedang disimpan orang tersebut di kepalanya. Atau orang yang sedang bercerita sedih siapa yang tau kalau ternyata hatinya sedang bahagia. Ya ketika lingkungan kita melabeling "dewasa" kepada kita semakin lingkungan melonggarkan perhatian dan pengertian mereka terhadap kita.Secara konsep itu ga salah, karena sebenernya kita terus berkembang tapi terkadang mereka acuh berlebihan, karena ada saat - saat tertentu pada fase "dewasa" dimana kita sungguh membutuhkan dukungan dan perhatian selayaknya dahulu saat kita belum berstatus "dewasa".Percayalah konsep dewasa untuk di umur 20 sungguh rumit.
Balik ke mereka yang sedang saya bicarakan, hampir setiap hari kami melakukan kegiatan bersama. Makan, travelling, nyobain ini-itu tanpa jeda, dan aktivitas kecil yang mungkin terlihat kecil tapi penuh makna. Pernah di suatu malam mendekati akhir perjalanan kami, kita berkumpul di satu meja bercerita saling bertukar tentang mimpi dan kenangan yang secara tidak kami sadari tersimpan di bawah alam sadar kami. Setiap orang punya satu mimpi, saya ingat betul semua bercerita tentang mimpi nya masing - masing, ada yang ingin menjadi dosen, wanita karir, wirausaha, atau yang ingin konsen di bidang sosial bahkan travelling. Mereka semua punya mimpi yang mereka bentuk dan mereka susun untuk mendukung labeling "dewasa" sebagai nama belakang kami. Mimpi yang mereka bentuk tidak terjadi begitu saja, tidak pernah ada yang tahu apa yang pernah terjadi dihidup mereka sebelumnya, yang membuat mereka begitu kuat dan visioner seperti saat itu.
Analoginya gini, Taj Mahal di India dibangun begitu indahnya seperti saat ini, siapa sangka kalau si raja sebagai orang yang memiliki ide untuk membangun terinspirasi dari rasa cinta yang mendalam kepada istri nya dan di visualisasikan dalam bentuk bangunan yang indah. Mungkin kita tidak pernah melihat Taj Mahal kalau sang raja ga merasakan patah hati yang mendalam, dan disalurkan melalui visualisasi dalam bentuk bangunan yang diberi nama Taj Mahal. Seperti itu lah orang - orang yang menjadi teman saya selama sebulan kebelakang, mungkin saya tidak pernah tau apa yang membentuk mereka.
Tapi saya meyakini..
bahwa mimpi yang terbentuk dilatarbelakangi oleh apa yang sudah terjadi dibelakang yang biasa kita sebut sebagai kenangan. apa yang sudah terjadi di mereka satu per satu tidak pernah ada yang tau, tapi itu semua membuat mereka kuat untuk membentuk mimpi mereka menjadi pijakan yang tepat untuk melangkah.
Saya menamai mereka sebagai teman berbagi mimpi. Teman yang saya sangat tunggu realisasi dari mimpi mimpi mereka. Dan secara tidak langsung saya sedang bermimpi, bermimpi untuk bertemu di ruang yang berbeda dengan mereka namun dengan makna yang hampir sama dengan saat - saat dimana kami pernah melewatinya
Semua orang punya mimpi hanya saja
beberapa orang lupa rasanya bermimpi. Lupa rasanya punya peluang. Lupa gimana memiliki harapan.
p.s : Terima Kasih untuk mengikuti alur mimpi saya hingga akhir.
Philosophers say that that's enough
There surely must be more
Love ain't the answer, nor is work
.......
But I'm still having fun and I guess that's the key
I'm a twentysomething and I'll keep being me
-Twenty Something - Jamie Cullum-



